VIVAnews
By Renne R.A Kawilarang, Shinta Eka Puspasari - Selasa, Agustus 25
VIVAnews - Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) akan menggelar pertemuan tiga hari untuk membicarakan reuni bagi keluarga-keluarga yang terpisah akibat Perang Korea sekaligus rekonsiliasi kedua negara. Pertemuan ini akan dimulai Rabu esok, 26 Agustus 2009, di resor Gunung Keumgang, Korut.
Pertemuan yang dimediasi Palang Merah Internasional ini merupakan pembicaraan reuni pertama dalam dua tahun terakhir. Laman stasiun televisi CNN memberitakan pemerintah Korut juga menjadwalkan reuni bagi keluarga-keluarga yang tercerai-berai tersebut pada awal Oktober mendatang.
Pembicaraan antara dua Korea menemui jalan buntu sejak presiden Korsel Lee Myung-bak dilantik, tahun lalu. Lee bersikap jauh lebih keras terhadap Korut dan berniat menghentikan dana bantuan untuk negara komunis itu.
Pengumuman yang disampaikan Kementerian Unifikasi Korsel ini merupakan pertanda terakhir yang menunjukkan mencairnya hubungan dua negara. Secara resmi, Korut dan Korsel masih berada dalam kondisi perang karena tidak ada perjanjian perdamaian yang mengakhiri Perang Korea, 1953 silam.
Akhir pekan lalu, presiden Lee menerima delegasi Korut yang dikirim pemimpin Korut Kim Jong-il untuk menghadiri pemakaman mantan presiden Kim Dae-jung. Delegasi dilaporkan membawa pesan permintaan konferensi tingkat tinggi untuk memperbaiki hubungan dua Korea dari Kim Jong-il.
Sebelumnya, perusahaan otomotif Korsel, Hyundai dan pemerintah Korut telah menandatangani kesepakatan perpanjangan kerja sama. Korut memutuskan untuk melonggarkan pengawasan perbatasan, meneruskan pariwisata perbatasan, dan memfasilitasi reuni keluarga lintas batas.
Showing posts with label international news. Show all posts
Showing posts with label international news. Show all posts
Wednesday, May 1, 2013
Thursday, March 22, 2012
AS Kembali Ungkap Misteri Hilangnya Amelia Earhart
AFP – Rab, 21 Mar 2012
Lainnya »
Washington (AFP/ANTARA) - Amerika Serikat pada Selasa berjanji untuk memecahkan misteri yang berumur 75 tahun tentang legenda penerbangan Amelia Earhart, setelah analisa sebuah foto yang menunjukkan bahwa Earhart kemungkinan jatuh di sebuah pulau terpencil di Samudera Pasifik.
Earhart memulai penerbangan pada 1937 dari Papua Nugini dalam misinya mengelilingi dunia di atas garis khatulistiwa, yang merupakan rute terpanjang. Earhart dan penunjuk arah Fred Noonan tidak pernah terlihat lagi, meskipun pencarian besar-besaran dilakukan saat Amerika Serikat dihantam resesi.
Menteri Luar Negeri Hillary Clinton menggambarkan Earhart secara pribadi sebagai pelopor pilot perempuan, namun secara nasional Hillary menggambarkannya sebagai pahlawan perempuan. Menteri Hillary juga memberikan dukungan moral bagi pencarian selanjutnya untuk mencari reruntuhan pesawat Earhart, Lockheed Electra.
"Amelia Earhart mungkin tidak seperti pahlawan perempuan bagi sebuah bangsa karena keberuntungannya, namun dia mewujudkan semangat Amerika untuk meningkatkan kepercayaan diri, siap untuk memimpin dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan berbahaya. Dia memberikan harapan bagi rakyat dan dia menginspirasi mereka untuk bermimpi lebih besar dan lebih berani," ujar Hillary.
"Saat dia memulai perjalanan bersejarahnya, dia membawa aspirasi seluruh negara."
Penggemar penerbangan dari "International Group for Historic Aircraft Recovery" mengatakan mereka berencana untuk melakukan misi di dalam air di Pulau Nikumaroro, sebuah pulau terpencil di Negara Kepulauan Kiribati pada Juli.
Direktur Eksekutif kelompok tersebut Ric Gillespie mengatakan dia menemukan sebuah foto dari Nikumaroro yang diambil pada 1937 oleh tim ekspedisi dari Inggris --yang tidak berhubungan dengan Earhart --- yang menilai pulau tak berpenghuni itu berpotensi untuk pemukiman.
Gillespie mengatakan dia melihat adanya gumpalan sederhana dalam gambar itu. Namun setelah dianalisa lebih dalam, Gillespie percaya bahwa itu adalah roda gigi dari pesawat naas Electra.
Gillespie menyebut bukti itu menarik, tetapi mendalam, dan berjanji untuk mencari seluruh kawasan di sekitar Nikumaroro.
"Ada beberapa orang sangat pintar yang berpikir bahwa kami salah tentang hal ini, namun ada juga orang yang sangat pintar yang berpikir kami benar," kata Gillespie.
"Satu-satunya usaha yang dapat kami lakukan adalah pergi dan mencari sebaik mungkin, dan kemudian melihat apa saja yang kami temukan."
Misteri selanjutnya adalah apakah Earhart dan Noonan tewas seketika atau sebagian penggemarnya membayangkan Earhart dan Noonan hidup sebagaimana orang yang terdampar.
Clinton dan Gillespie berbicara seperti itu pada sebuah acara bersama Menteri Luar Negeri Kiribati Tessie Lambourne di Kementerian Luar Negeri AS. Tessie Lambourne berharap usaha pencarian tidak hanya menemukan reruntuhan tetapi juga memasukkan pulau terpencil itu ke peta wisata.
"Atol Nikumaroro adalah tempat yang jarang sekali terdengar. Oleh karena itu, kami sangat berharap usaha itu akan mengubah situasi," kata Lambourne.
Analisis foto itu sebenarnya bukanlah petunjuk pertama dalam mengungkap kabut misteri Earhart. Sebelumnya, grup Gillespie mengumumkan mereka menemukan tulang-belulang di Nikumaroro, namun tes laboratorim menyimpulkan bahwa tulang itu bukan berasal dari manusia.
Seorang pakar kelautan yang menemukan puing-puing Titanic pada 1985, Robert Ballard, bersedia memberikan dukungannya terhadap misi itu, meskipun dia menyadari sulit untuk menemukan pesawat Earhart itu.
Ballard juga menemukan reruntuhan kapal USS Yorktown dan Bismarck dari Perang Dunia II. Ballard mengatakan wilayah tempat jatuhnya pesawat Earhart itu jauh lebih luas dibandingkan wilayah pencarian sebelumnya.
"Jika kamu pernah tahu tentang kasus menemukan jarum di tumpukan jerami, ini merupakan termasuk eksplorasi di dalam laut yang pernah ada," kata Ballard.
Pemerintah AS menyediakan bantuan dalam menganalisa foto itu dan melakukan perundingan dengan Kiribati. Namun dana untuk pencarian itu berasal dari dana swasta, ujar salah seorang pejabat.
Asisten Menlu untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Kurt Campbell mengaku tertarik dalam proyek itu setelah perjalanan ke Kiribati. Campbell juga mengatakan Kementerian Luar Negeri mengaku tidak hanya optimistik tetapi juga melihat pencarian itu secara jernih.
"Amerika Serikat terus mendorong dan berharap, namun sejujurnya kami tidak tahu," ujar Campbell.
"Ini merupakan misteri besar yang sudah tersimpan selama 75 tahun. Mungkin ini misteri besar yang tidak terungkap pada abad ke-20 ini."
Thursday, March 15, 2012
Erupsi Matahari Disangka UFO Isi Bahan Bakar
VIVAnews - Sebuah gambar Matahari yang ditangkap sebuah teleskop pada 12 Maret 2012 menghebohkan dunia maya. Gara-gara ada penampakan bayangan obyek sebesar planet yang seolah ditambatkan diri ke Sang Surya, melalui sebuah filamen gelap.
Seperti dimuat situs sains, Life's Little Mysteries, nampak dalam rekaman, di pinggiran Matahari yang menyembur, benda berbentuk bulat itu seolah melepaskan diri dari Matahari dan meluncur ke ruang angkasa.
Rekaman tersebut adalah gabungan foto yang diambil oleh Solar Dynamics Observatory dan diolah oleh para ilmuwan di Goddard Space Flight Center NASA. Gambar tersebut dengan cepat menarik perhatian di YouTube, di mana sejumlah penontonya menduga, rekaman itu menunjukkan pesawat UFO sedang mengisi bahan bakar dengan cara menyedot plasma Matahari. Atau yang lebih ilmiah, diduga itu adalah fenomena kelahiran planet.
Menanggapi polemik itu, ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengatakan, fitur dalam rekaman tersebut adalah tipe aktivitas Matahari yang disebut "solar prominence" atau letusan plasma magnetik. Fenomena ini sering diamati, meski para ilmuwan mengaku, belum memahaminya lebih dalam.
Ilmuwan NASA, Joseph Gurman mengatakan, prominence yang nampak seperti benang atau kawat dari di tepi kiri bawah matahari -- seperti yang nampak dalam video, terbentuk dari plasma yang lebih dingin dan padat dari sekelilingnya -- adalah korona Matahari.
Gurman menjelaskan bahwa para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti bagaimana prominence dihasilkan pada Matahari.
Sementara, C. Alex Young, ilmuwan astrofisika ahli astrofisika matahari di Goddard Space Flight Center NASA menjelaskan, kesan bola sedang menyedot energi Matahari disebabkan posisi prominence yang berada di bawah fitur saluran filamen Matahari, yang berbentuk seperti terowongan.
Young mengakui, fitur tersebut tidak biasa pada Matahari. Lihat videonya di tautan ini. (umi)
Tuesday, February 28, 2012
Paus Ingin Ungkap Rahasia Injil Kuno Berusia 1500 Tahun
Republika – 28 February 2012
REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN - Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).
Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.
Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.
Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.
Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.
Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).
Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah.
REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN - Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).
Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.
Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.
Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.
Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.
Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).
Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah.
Kontroversi Injil Kuno yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad
Republika, 28 February 2012
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Penemuan Injil kuno yang memprediksi kedatangan Nabi Muhammad telah memunculkan kontroversi, terutama yang terkait dengan kesamaannya dengan Alquran maupun kontroversi seputar keasliannya.
Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.
Walau Injil Barnabas "mengakui" kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. "Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam," demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).
Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.
Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. "Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab," ungkapnya.
Akkad menambahkan, kisah Injil Barnabas tentang bagaimana Yesus mengabarkan tentang munculnya Nabi Muhammad kepada kerumunan ribuan pengikutnya amat sulit dipercaya. Injil ini, kata dia, mengandung beberapa kesalahan yang begitu vulgar, baik bagi Yahudi, Kristen, maupun Muslim.
Misalnya, sambung Akkad, kitab itu mengatakan ada sembilan lapis langit dan yang kesepuluh adalah surga. Sementara dalam Alquran hanya ada tujuh lapis langit. Juga klaim Injil yang menyatakan perawan Maria tidak merasakan sakit saat melahirkan Yesus. Padahal, dalam Alquran disebutkan Maryam menderita kesakitan saat melahirkan putranya.
Menurut Injil (Barnabas), Yesus mengatakan kepada imam Yahudi bahwa dirinya bukan Mesiah dan Mesiah sesungguhnya adalah Muhammad SAW. "Ini berarti ada penolakan atas keberadaan Mesiah, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dengan demikian, seolah-olah Yesus dan Muhammad tampak seperti satu orang yang sama," kata Akkad.
Kitab Injil ini juga berisi informasi yang tidak memiliki kredibilitas sejarah, seperti adanya tiga tentara—masing-masing terdiri dari 200.000 tentara—di Palestina. Sedangkan seluruh penduduk Palestina sekitar 2.000 tahun lalu, tidak mencapai 200.000. Tragisnya, Palestina saat itu diduduki oleh Romawi, dan tak mungkin diizinkan memiliki bala tentara sendiri.
Demikian pula, lanjut Akkad, kalimat terakhir dalam Bab 217 yang menyatakan bahwa tubuh Yesus dibebani 100 pon batu. "Ini menegaskan bahwa Injil tersebut ditulis baru-baru ini, karena penggunaan pon sebagai satuan berat untuk pertama kali dilakukan oleh Dinasti Ottoman, dalam sebuah eksperimen dengan Italia dan Spanyol. Dan kata-kata "pon" tidak pernah dikenal pada masa Yesus.
Menurut Akkad, salah satu fakta paling mencolok yang disebutkan dalam Injil Barnabas terdapat dalam Bab 53, yang mengatakan bahwa pada Hari Kiamat bulan akan berubah menjadi balok darah. Dan pada hari kedua, darah ini akan menetes ke bumi seperti embun. Kemudian pada hari ketiga, bintang-bintang akan bertempur laksana serdadu perang.
"Berdasarkan sejumlah penelitian, Injil Barnabas ditulis pada Abad Pertengahan oleh seorang Yahudi Eropa yang cukup akrab dengan Alquran dan Injil. Dia kemudian mencampur-adukkan fakta dan opini dari berbagai sumber, tanpa diketahui motif dan tendensinya," tandas Akkad.
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Penemuan Injil kuno yang memprediksi kedatangan Nabi Muhammad telah memunculkan kontroversi, terutama yang terkait dengan kesamaannya dengan Alquran maupun kontroversi seputar keasliannya.
Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.
Walau Injil Barnabas "mengakui" kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. "Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam," demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).
Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.
Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. "Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab," ungkapnya.
Akkad menambahkan, kisah Injil Barnabas tentang bagaimana Yesus mengabarkan tentang munculnya Nabi Muhammad kepada kerumunan ribuan pengikutnya amat sulit dipercaya. Injil ini, kata dia, mengandung beberapa kesalahan yang begitu vulgar, baik bagi Yahudi, Kristen, maupun Muslim.
Misalnya, sambung Akkad, kitab itu mengatakan ada sembilan lapis langit dan yang kesepuluh adalah surga. Sementara dalam Alquran hanya ada tujuh lapis langit. Juga klaim Injil yang menyatakan perawan Maria tidak merasakan sakit saat melahirkan Yesus. Padahal, dalam Alquran disebutkan Maryam menderita kesakitan saat melahirkan putranya.
Menurut Injil (Barnabas), Yesus mengatakan kepada imam Yahudi bahwa dirinya bukan Mesiah dan Mesiah sesungguhnya adalah Muhammad SAW. "Ini berarti ada penolakan atas keberadaan Mesiah, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dengan demikian, seolah-olah Yesus dan Muhammad tampak seperti satu orang yang sama," kata Akkad.
Kitab Injil ini juga berisi informasi yang tidak memiliki kredibilitas sejarah, seperti adanya tiga tentara—masing-masing terdiri dari 200.000 tentara—di Palestina. Sedangkan seluruh penduduk Palestina sekitar 2.000 tahun lalu, tidak mencapai 200.000. Tragisnya, Palestina saat itu diduduki oleh Romawi, dan tak mungkin diizinkan memiliki bala tentara sendiri.
Demikian pula, lanjut Akkad, kalimat terakhir dalam Bab 217 yang menyatakan bahwa tubuh Yesus dibebani 100 pon batu. "Ini menegaskan bahwa Injil tersebut ditulis baru-baru ini, karena penggunaan pon sebagai satuan berat untuk pertama kali dilakukan oleh Dinasti Ottoman, dalam sebuah eksperimen dengan Italia dan Spanyol. Dan kata-kata "pon" tidak pernah dikenal pada masa Yesus.
Menurut Akkad, salah satu fakta paling mencolok yang disebutkan dalam Injil Barnabas terdapat dalam Bab 53, yang mengatakan bahwa pada Hari Kiamat bulan akan berubah menjadi balok darah. Dan pada hari kedua, darah ini akan menetes ke bumi seperti embun. Kemudian pada hari ketiga, bintang-bintang akan bertempur laksana serdadu perang.
"Berdasarkan sejumlah penelitian, Injil Barnabas ditulis pada Abad Pertengahan oleh seorang Yahudi Eropa yang cukup akrab dengan Alquran dan Injil. Dia kemudian mencampur-adukkan fakta dan opini dari berbagai sumber, tanpa diketahui motif dan tendensinya," tandas Akkad.
Wednesday, February 16, 2011
Kebakaran Hutan Di Athena
Kebakaran hutan di utara ibukota Yunani, Athena selama beberapa hari tak hanya menghanguskan pepohonan, namun juga menghanguskan banyak rumah sehingga memaksa ribuan orang mengungsi.

Sebuah helikopter menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di Marathon, sebelah timur laut kota Athena (22/08). Foto: AP Photos/Dimitri Messinis

Para petugas pemadam kebakaran bekerja keras berusaha memadamkan api di gunung Penteli,Yunani (23/08). Foto: AP Photo/Petros Giannakouris

Seorang wanita tampak kebingungan setelah api melanda kawasan rumahnya di Marathon, timur laut kota Athena (23/08). Foto: AP Photos/Dimitri Messinis
Sebuah pesawat pemadam menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di Nea Makri, dekat Athena (24/08). Foto: AP Photo/Dusan Vranic
Source : foto.vivanews.com
Sebuah helikopter menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di Marathon, sebelah timur laut kota Athena (22/08). Foto: AP Photos/Dimitri Messinis
Para petugas pemadam kebakaran bekerja keras berusaha memadamkan api di gunung Penteli,Yunani (23/08). Foto: AP Photo/Petros Giannakouris
Seorang wanita tampak kebingungan setelah api melanda kawasan rumahnya di Marathon, timur laut kota Athena (23/08). Foto: AP Photos/Dimitri Messinis
Sebuah pesawat pemadam menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di Nea Makri, dekat Athena (24/08). Foto: AP Photo/Dusan Vranic
Source : foto.vivanews.com
Tuesday, December 7, 2010
WikiLeaks: AS Berkepentingan Atas Timah RI
By Renne R.A Kawilarang - Senin, 6 Desember
VIVAnews - Tambang dan pabrik timah di dekat Selat Malaka, Indonesia, dianggap vital bagi kepentingan Amerika Serikat (AS). Selain itu, Washington juga menandai sejumlah sumber daya dan lokasi strategis lainnya di mancanegara yang patut diperhatikan bagi kepentingan Negeri Paman Sam.
Demikian menurut suatu memo berkatagori rahasia yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS. Memo itu dibuat pada 18 Februari 2009 dan berkatagori rahasia, yang akhirnya bocor di laman WikiLeaks pada 5 Desember 2010.
Bernomor referensi STATE 015113, memo diplomatik itu menginstruksikan kedutaan-kedutaan besar AS di mancanegara untuk menyusun daftar infrastruktur yang dianggap vital bagi kesehatan publik, keberlangsungan ekonomi dan keamanan AS.
Tambang dan pabrik timah di Selat Malaka, Indonesia, termasuk dalam ratusan aset yang berkatagori "infrastruktur penting dan sumber daya kunci," bagi AS. Daftar itu dimuat dalam "Critical Foreign Dependencies Initiative 2008," yang bertujuan untuk mendata sejumlah aset vital di luar negeri untuk melindungi kepentingan AS dari berbagai ancaman, baik terorisme maupun bencana alam.
Memo itu tidak menyebutkan lokasi spesifik tambang timah di Indonesia yang dianggap penting bagi AS. Namun, sejumlah wilayah di Kepulauan Riau, yang terletak di dekat Selat Malaka, dikenal sebagai penghasil timah.
Menurut penelusuran VIVAnews, dan juga laman harian New Zealand Herald, dokumen itu bertanda Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.
"Ketidakmampuan atau penghancuran sistem dan aset-aset itu akan melemahkan keamanan, daya tahan ekonomi nasional, kesehatan atau keselamatan publik nasional, atau gabungan dari elemen-elemen itu," demikian tulis memo tersebut, seperti yang dipantau New Zealand Herald.
Bersama Indonesia dan negara-negara lain, sejumlah wilayah di Selandia Baru turut menjadi kepentingan AS. Wilayah yang dimaksud adalah jalur kabel bawah laut di Takapuna dan Whenuapai.
VIVAnews - Tambang dan pabrik timah di dekat Selat Malaka, Indonesia, dianggap vital bagi kepentingan Amerika Serikat (AS). Selain itu, Washington juga menandai sejumlah sumber daya dan lokasi strategis lainnya di mancanegara yang patut diperhatikan bagi kepentingan Negeri Paman Sam.
Demikian menurut suatu memo berkatagori rahasia yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS. Memo itu dibuat pada 18 Februari 2009 dan berkatagori rahasia, yang akhirnya bocor di laman WikiLeaks pada 5 Desember 2010.
Bernomor referensi STATE 015113, memo diplomatik itu menginstruksikan kedutaan-kedutaan besar AS di mancanegara untuk menyusun daftar infrastruktur yang dianggap vital bagi kesehatan publik, keberlangsungan ekonomi dan keamanan AS.
Tambang dan pabrik timah di Selat Malaka, Indonesia, termasuk dalam ratusan aset yang berkatagori "infrastruktur penting dan sumber daya kunci," bagi AS. Daftar itu dimuat dalam "Critical Foreign Dependencies Initiative 2008," yang bertujuan untuk mendata sejumlah aset vital di luar negeri untuk melindungi kepentingan AS dari berbagai ancaman, baik terorisme maupun bencana alam.
Memo itu tidak menyebutkan lokasi spesifik tambang timah di Indonesia yang dianggap penting bagi AS. Namun, sejumlah wilayah di Kepulauan Riau, yang terletak di dekat Selat Malaka, dikenal sebagai penghasil timah.
Menurut penelusuran VIVAnews, dan juga laman harian New Zealand Herald, dokumen itu bertanda Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.
"Ketidakmampuan atau penghancuran sistem dan aset-aset itu akan melemahkan keamanan, daya tahan ekonomi nasional, kesehatan atau keselamatan publik nasional, atau gabungan dari elemen-elemen itu," demikian tulis memo tersebut, seperti yang dipantau New Zealand Herald.
Bersama Indonesia dan negara-negara lain, sejumlah wilayah di Selandia Baru turut menjadi kepentingan AS. Wilayah yang dimaksud adalah jalur kabel bawah laut di Takapuna dan Whenuapai.
Presiden Hu Mewanti-wanti
Kompas - 2 jam 22 menit lalu
KOMPAS.com – Ada keprihatinan yang terungkap dalam pembicaraan telepon antara Presiden China Hu Jintao dengan Presiden AS Barack Obama. Menurut warta AP dan AFP pada Senin (6/12/2010), Presiden Jintao mengatakan dirinya prihatin terkait ketegangan hingga kini antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Dalam pembicaraan telepon itu, dia mengatakan pula semua pihak harus menahan diri.
Sementara pihak Amerika mengatakan, Presiden Obama mendesak mitranya, China agar mengirim pesan jelas kepada Korea Utara.
Pembicaraan telepon antara Presiden Hu dan Obama ini menekankan seberapa serius Beijing dan Washington menanggapi ketegangan terbaru di semenanjung Korea ini. Sikap kedua pemimpin ini mungin merupakan sikap paling serius ditengah ketidakpastian situasi yang lebih besar dibandingkan beberapa dasawarsa terakhir.
Tetapi hal lain yang bisa dibaca dari percakapan itu adalah perbedaan perspektif antara kedua negara. Beijing menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menolak menuding Pyongyang memulai ketegangan ini. Di sisi lain, Washington jelas menginginkan agar Beijing mengendalikan sekutunya, Korea Utara. Tampak jelas ada rasa frustrasi di kalangan pejabat Amerika terhadap sikap China itu. Hal tersebut ditambah dengan sejumlah pertanyaan mengenai seberapa besar sebenarnya pengaruh China yang masih ada terhadap Korea Utara saat ini.
Menteri-menteri luar negeri Amerika, Korea Selatan, dan Jepang akan segera bertemu di Washington, tanpa perwakilan dari China. Mereka semua berhati-hati menanggapi dorongan China agar memulai lagi dialog enam pihak tentang ambisi nuklir Korea Utara.
Situasi saat ini menggambarkan betapa kompleksnya strategi dan gambaran keamanan regional saat ini. Ada kekhawatiran mengenai semenanjung Korea, pengakuan bahwa China merupakan salah satu pemain penting dalam masalah ini. Tetapi, keresahan di kalangan para pemain penting lain mengenai hubungan mereka dengan Beijing dan pertanyaan mengenai ambisi China di kawasan itu muncul pula.
KOMPAS.com – Ada keprihatinan yang terungkap dalam pembicaraan telepon antara Presiden China Hu Jintao dengan Presiden AS Barack Obama. Menurut warta AP dan AFP pada Senin (6/12/2010), Presiden Jintao mengatakan dirinya prihatin terkait ketegangan hingga kini antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Dalam pembicaraan telepon itu, dia mengatakan pula semua pihak harus menahan diri.
Sementara pihak Amerika mengatakan, Presiden Obama mendesak mitranya, China agar mengirim pesan jelas kepada Korea Utara.
Pembicaraan telepon antara Presiden Hu dan Obama ini menekankan seberapa serius Beijing dan Washington menanggapi ketegangan terbaru di semenanjung Korea ini. Sikap kedua pemimpin ini mungin merupakan sikap paling serius ditengah ketidakpastian situasi yang lebih besar dibandingkan beberapa dasawarsa terakhir.
Tetapi hal lain yang bisa dibaca dari percakapan itu adalah perbedaan perspektif antara kedua negara. Beijing menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menolak menuding Pyongyang memulai ketegangan ini. Di sisi lain, Washington jelas menginginkan agar Beijing mengendalikan sekutunya, Korea Utara. Tampak jelas ada rasa frustrasi di kalangan pejabat Amerika terhadap sikap China itu. Hal tersebut ditambah dengan sejumlah pertanyaan mengenai seberapa besar sebenarnya pengaruh China yang masih ada terhadap Korea Utara saat ini.
Menteri-menteri luar negeri Amerika, Korea Selatan, dan Jepang akan segera bertemu di Washington, tanpa perwakilan dari China. Mereka semua berhati-hati menanggapi dorongan China agar memulai lagi dialog enam pihak tentang ambisi nuklir Korea Utara.
Situasi saat ini menggambarkan betapa kompleksnya strategi dan gambaran keamanan regional saat ini. Ada kekhawatiran mengenai semenanjung Korea, pengakuan bahwa China merupakan salah satu pemain penting dalam masalah ini. Tetapi, keresahan di kalangan para pemain penting lain mengenai hubungan mereka dengan Beijing dan pertanyaan mengenai ambisi China di kawasan itu muncul pula.
Sekutu Bicara Tak Ikutkan China
Kompas - 1 jam 59 menit lalu
KOMPAS.com – Tiga negara yakni Jepang, Korea Selatan, serta Amerika Serikat bergegas menggelar pembicaraan di Washington. Ini adalah salah satu upaya negara-negara di kawasan dalam meningkatkan upaya diplomatik guna mencegah konflik kembali terjadi.
Menurut warta AP dan AFP pada Senin (6/12/2010), Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan dua mitranya tadi termasuk yang ikut andil dalam pembicaraan itu. Pertemuan ini dilakukan dua minggu setelah serangan mematikan Korea Utara terhadap pulau Korea Selatan karena Seoul melakukan latihan militer. China yang merupakan sekutu paling penting Korut tidak diundang. Namun, ketiga negara diperkirakan akan membahas usulan Beijing tentang perundingan darurat kawasan.
Pengaruh
Dalam pembicaraan telepon sebelumnya, Obama mendesak Presiden China Hu Jintao untuk bekerja sama dengan AS sebagai "pesan tegas" kepada Korea Utara bahwa provokasi terhadap Korsel "tidak dapat diterima".
Catatan pembicaraan juga menunjukkan perbedaan pandangan. Beijing menginginkan semua pihak menahan diri dan menolak menyalahkan Pyongyang. Di sisi lain, Washington menginginkan Beijing lebih meminta tanggung jawab Korea Utara.
Sejumlah pejabat AS kecewa terhadap posisi China. Utamanya, mengingat besarnya pengaruh China terhadap para pemimpin Korea Utara.
Sementara itu, Mahkamah Kejahatan Internasional akan menyelidiki apakah aksi Korut dapat dipandang sebagai kejahatan perang. Mahkamah tersebut menyatakan akan memeriksa peristiwa penembakan pulau Yeonpyeong pada tanggal 23 November yang menewaskan dua marinir Korea Selatan dan dua warga sipil.
Keadaan di semenanjung tetap tidak menentu. Pada Senin, Korea Selatan tetap melakukan serangkaian latihan penembakan baru meskipun Pyongyang sudah mengeluarkan peringatan. Latihan dilakukan di pantai bagian timur, barat dan selatan tetapi tidak dilakukan di daerah sensitif di sepanjang perbatasan laut di barat.
Menteri pertahanan Korea Selatan yang baru mengatakan pihaknya akan melakukan serangan udara jika Korut kembali menyerang warga sipil.
KOMPAS.com – Tiga negara yakni Jepang, Korea Selatan, serta Amerika Serikat bergegas menggelar pembicaraan di Washington. Ini adalah salah satu upaya negara-negara di kawasan dalam meningkatkan upaya diplomatik guna mencegah konflik kembali terjadi.
Menurut warta AP dan AFP pada Senin (6/12/2010), Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan dua mitranya tadi termasuk yang ikut andil dalam pembicaraan itu. Pertemuan ini dilakukan dua minggu setelah serangan mematikan Korea Utara terhadap pulau Korea Selatan karena Seoul melakukan latihan militer. China yang merupakan sekutu paling penting Korut tidak diundang. Namun, ketiga negara diperkirakan akan membahas usulan Beijing tentang perundingan darurat kawasan.
Pengaruh
Dalam pembicaraan telepon sebelumnya, Obama mendesak Presiden China Hu Jintao untuk bekerja sama dengan AS sebagai "pesan tegas" kepada Korea Utara bahwa provokasi terhadap Korsel "tidak dapat diterima".
Catatan pembicaraan juga menunjukkan perbedaan pandangan. Beijing menginginkan semua pihak menahan diri dan menolak menyalahkan Pyongyang. Di sisi lain, Washington menginginkan Beijing lebih meminta tanggung jawab Korea Utara.
Sejumlah pejabat AS kecewa terhadap posisi China. Utamanya, mengingat besarnya pengaruh China terhadap para pemimpin Korea Utara.
Sementara itu, Mahkamah Kejahatan Internasional akan menyelidiki apakah aksi Korut dapat dipandang sebagai kejahatan perang. Mahkamah tersebut menyatakan akan memeriksa peristiwa penembakan pulau Yeonpyeong pada tanggal 23 November yang menewaskan dua marinir Korea Selatan dan dua warga sipil.
Keadaan di semenanjung tetap tidak menentu. Pada Senin, Korea Selatan tetap melakukan serangkaian latihan penembakan baru meskipun Pyongyang sudah mengeluarkan peringatan. Latihan dilakukan di pantai bagian timur, barat dan selatan tetapi tidak dilakukan di daerah sensitif di sepanjang perbatasan laut di barat.
Menteri pertahanan Korea Selatan yang baru mengatakan pihaknya akan melakukan serangan udara jika Korut kembali menyerang warga sipil.
Wah, Palestina Bantu Israel Memadamkan Api
Republika - Minggu, 5 Desember
REPUBLIKA.CO.ID, HAIFA--Regu pemadam kebakaran Palestina membantu Israel memerangi kebakaran hutan besar di Perbukitan Carmel, Israel utara. Demikian dikatakan Presiden Palestina, Mahmud Abbas Sabtu waktu setempat (4/12).
Abbas dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saling menghubungi lewat telepon, berbicara tentang kebakaran. Menurut Netanyahu negara tetangga harus saling membantu. Ia selanjutnya mengatakan pembicaraan berlangsung damai.
Kebakaran terjadi Kamis pagi (2/12) dan telah menelan sedikitnya empat puluh jiwa. Kebanyakan korban adalah penjaga penjara, yang sedang dalam perjalanan pulang naik bus. Kebakaran juga telah menghancurkan lahan seluas 34 kilometer persegi dan empat juta pohon.
Akibat kekurangan material, Netanyahu Jumat (3/12) meminta bantuan luar negeri. Masyarakat internasional secara massal menangapi permohonan itu dan mengirim lebih dari sepuluh pesawat pemadam kebakaran. Yunani, Rusia, Bulgaria, Amerika Serikat, Yordania, Siprus, dan Azerbaijan memberikan bantuan. Belanda mengirim helikopter pemadam kebakaran ke kawasan bencana yang kemungkinan tiba di sana Senin (6/12).
Kendati semua bantuan datang, Israel memperkirakan masih membutuhkan waktu satu pekan sebelum bisa mengendalikan api.
REPUBLIKA.CO.ID, HAIFA--Regu pemadam kebakaran Palestina membantu Israel memerangi kebakaran hutan besar di Perbukitan Carmel, Israel utara. Demikian dikatakan Presiden Palestina, Mahmud Abbas Sabtu waktu setempat (4/12).
Abbas dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saling menghubungi lewat telepon, berbicara tentang kebakaran. Menurut Netanyahu negara tetangga harus saling membantu. Ia selanjutnya mengatakan pembicaraan berlangsung damai.
Kebakaran terjadi Kamis pagi (2/12) dan telah menelan sedikitnya empat puluh jiwa. Kebanyakan korban adalah penjaga penjara, yang sedang dalam perjalanan pulang naik bus. Kebakaran juga telah menghancurkan lahan seluas 34 kilometer persegi dan empat juta pohon.
Akibat kekurangan material, Netanyahu Jumat (3/12) meminta bantuan luar negeri. Masyarakat internasional secara massal menangapi permohonan itu dan mengirim lebih dari sepuluh pesawat pemadam kebakaran. Yunani, Rusia, Bulgaria, Amerika Serikat, Yordania, Siprus, dan Azerbaijan memberikan bantuan. Belanda mengirim helikopter pemadam kebakaran ke kawasan bencana yang kemungkinan tiba di sana Senin (6/12).
Kendati semua bantuan datang, Israel memperkirakan masih membutuhkan waktu satu pekan sebelum bisa mengendalikan api.
Monday, November 29, 2010
Kapal Induk George Washington Hadir di Perairan Korea
Liputan 6 - Minggu, 28 November
Liputan6.com, Seoul: Amerika Serikat dan Korea Selatan, Minggu (28/11) memulai latihan militer bersama di perairan barat Semenanjung Korea. Latihan itu militer bersama yang menyebabkan Korea Utara meradang itu juga ditentang Cina. Korea Utara bahkan sempat mengeluarkan ancaman.
Amerika Serikat sendiri menyebutkan latihan bersama ini sebagai tanda pencegahan terhadap Korea Utara. Seorang pejabat dari pasukan AS di Korea mengatakan kepada Reuters, kapal induk bertenaga nuklir USS George Washington telah bergabung dengan pelatihan yang akan berlangsung selama empat hari itu.
Kapal induk George Washington membawa 75 pesawat tempur dan memiliki awak lebih dari 6.000 orang. George Washington tidak datang sendirian, kapal induk ini disertai sedikitnya empat kapal perang lain.
Menghadapi kondisi yang kian memanas, Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak minta para menteri dan pembantunya untuk bersiap menghadapi provokasi yang dilakukan Korea Utara saat pelatihan itu berlangsung.
"Ada kemungkinan Korea Utara akan melakukan beberapa tindakan yang tak disangka-sangka, jadi harap bersiap dengan sungguh-sungguh menghadapinya melalui kerja sama dengan pasukan gabungan Korea-AS," kata Lee sebagamana dikutip oleh jurubicaranya.
Kantor berita Korea Utara KCNA Sabtu (27/11) lalu mengatakan, "Jika AS membawa kapal induknya ke Laut Barat Korea akhirnya, tak seorang pun yang dapat memprediksi konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi".
Cina telah berusaha mencegah eskalasi kekerasan di Korea dan memperingatkan terhadap aksi militer di dekat pantainya.
Korea Selatan menjelaskan bahwa Cina telah mengirim sejumlah pejabat senior yang mencakup Penasihat Negara Dai Binnguo ke Seoul untuk mengadakan pertemuan, Ahad (28/11), dengan Menteri luar Negeri Korea Selatan Kim Sung-hwan.
Militer AS menegaskan, pelatihan militer bersama itu lama direncanakan sebelum serangan Korut pada Selasa. Latihan itu memang dirancang untuk merintangi Korea Utara dan tidak ditujukan pada Cina.
"Kami telah beroperasi secara rutin di perairan, di lepas pantai Semenanjung Korea selama bertahun-tahun," kata Kapten Darryn James, seorang juru bicara Pentagon. (Ant/Vin)
Liputan6.com, Seoul: Amerika Serikat dan Korea Selatan, Minggu (28/11) memulai latihan militer bersama di perairan barat Semenanjung Korea. Latihan itu militer bersama yang menyebabkan Korea Utara meradang itu juga ditentang Cina. Korea Utara bahkan sempat mengeluarkan ancaman.
Amerika Serikat sendiri menyebutkan latihan bersama ini sebagai tanda pencegahan terhadap Korea Utara. Seorang pejabat dari pasukan AS di Korea mengatakan kepada Reuters, kapal induk bertenaga nuklir USS George Washington telah bergabung dengan pelatihan yang akan berlangsung selama empat hari itu.
Kapal induk George Washington membawa 75 pesawat tempur dan memiliki awak lebih dari 6.000 orang. George Washington tidak datang sendirian, kapal induk ini disertai sedikitnya empat kapal perang lain.
Menghadapi kondisi yang kian memanas, Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak minta para menteri dan pembantunya untuk bersiap menghadapi provokasi yang dilakukan Korea Utara saat pelatihan itu berlangsung.
"Ada kemungkinan Korea Utara akan melakukan beberapa tindakan yang tak disangka-sangka, jadi harap bersiap dengan sungguh-sungguh menghadapinya melalui kerja sama dengan pasukan gabungan Korea-AS," kata Lee sebagamana dikutip oleh jurubicaranya.
Kantor berita Korea Utara KCNA Sabtu (27/11) lalu mengatakan, "Jika AS membawa kapal induknya ke Laut Barat Korea akhirnya, tak seorang pun yang dapat memprediksi konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi".
Cina telah berusaha mencegah eskalasi kekerasan di Korea dan memperingatkan terhadap aksi militer di dekat pantainya.
Korea Selatan menjelaskan bahwa Cina telah mengirim sejumlah pejabat senior yang mencakup Penasihat Negara Dai Binnguo ke Seoul untuk mengadakan pertemuan, Ahad (28/11), dengan Menteri luar Negeri Korea Selatan Kim Sung-hwan.
Militer AS menegaskan, pelatihan militer bersama itu lama direncanakan sebelum serangan Korut pada Selasa. Latihan itu memang dirancang untuk merintangi Korea Utara dan tidak ditujukan pada Cina.
"Kami telah beroperasi secara rutin di perairan, di lepas pantai Semenanjung Korea selama bertahun-tahun," kata Kapten Darryn James, seorang juru bicara Pentagon. (Ant/Vin)
Wednesday, November 24, 2010
India Dukung Hak Iran Untuk Gunakan Energi Nuklir
Antara - Rabu, 24 November
Iran (ANTARA/MEHR-OANA) - Menteri Luar Negeri India Nirupama Rao pada Minggu menegaskan bahwa India mendukung hak Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai, sekaligus menyatakan bahwa Teluk Persia adalah mitra alami India, menurut laporan Times of India.
"Sikap India terhadap isu nuklir Teheran tetap konsisten, kami mendukung hak semua negara, termasuk Iran, untuk menggunakan energi nuklir secara damai dan bertanggung jawab kepada internasional," kata Rao dalam konferensi Dewan Hubungan Dunia India (ICWA) bertema "Dewan Kerja Sama India dan negara Teluk, Iran dan Irak : Perspektif Keamanan Berkembang".
Sekitar 100 delegasi dari India dan wilayah Teluk Persia tersebut berpartisipasi dalam konferensi selama dua hari yang dibuka oleh Wakil Presiden India Hamid Ansari.
Iran dan negara kuat dunia (P5+1) akan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir Iran pada 5 Desember, tetapi kedua pihak belum menyetujui tempat dan agenda acaranya.
Pembicaraan tersebut bertujuan untuk menenangkan kecemasan Barat terhadap aktivitas Iran yang diduga menutupi senjata nuklir dengan menyamarkan sebagai program sipil, tuduhan yang telah berulang kali disangkal oleh Teheran.
Pembicaraan terdahulu terpotong setelah Iran pada Oktober 2009 menolak proposal oleh kekuatan dunia untuk menukarkan bahan bakar nuklir.
Komunitas internasional sejak itu menaikkan tindakan ekonomi dan politik terhadap Iran, dan Dewan Keamanan pada Juni memberlakukan sanksi PBB keempat pada Teheran.
Iran (ANTARA/MEHR-OANA) - Menteri Luar Negeri India Nirupama Rao pada Minggu menegaskan bahwa India mendukung hak Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai, sekaligus menyatakan bahwa Teluk Persia adalah mitra alami India, menurut laporan Times of India.
"Sikap India terhadap isu nuklir Teheran tetap konsisten, kami mendukung hak semua negara, termasuk Iran, untuk menggunakan energi nuklir secara damai dan bertanggung jawab kepada internasional," kata Rao dalam konferensi Dewan Hubungan Dunia India (ICWA) bertema "Dewan Kerja Sama India dan negara Teluk, Iran dan Irak : Perspektif Keamanan Berkembang".
Sekitar 100 delegasi dari India dan wilayah Teluk Persia tersebut berpartisipasi dalam konferensi selama dua hari yang dibuka oleh Wakil Presiden India Hamid Ansari.
Iran dan negara kuat dunia (P5+1) akan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir Iran pada 5 Desember, tetapi kedua pihak belum menyetujui tempat dan agenda acaranya.
Pembicaraan tersebut bertujuan untuk menenangkan kecemasan Barat terhadap aktivitas Iran yang diduga menutupi senjata nuklir dengan menyamarkan sebagai program sipil, tuduhan yang telah berulang kali disangkal oleh Teheran.
Pembicaraan terdahulu terpotong setelah Iran pada Oktober 2009 menolak proposal oleh kekuatan dunia untuk menukarkan bahan bakar nuklir.
Komunitas internasional sejak itu menaikkan tindakan ekonomi dan politik terhadap Iran, dan Dewan Keamanan pada Juni memberlakukan sanksi PBB keempat pada Teheran.
Serangan Korut Bangunkan Obama dari Tidur
By Renne R.A Kawilarang - Rabu, 24 November
VIVAnews - Serangan artileri Korea Utara (Korut) Selasa kemarin tidak saja membuat Korea Selatan (Korsel) kelabakan. Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, turut dibuat repot.
Menurut harian USA Today, Obama terpaksa dibangunkan pejabat Gedung Putih dari tidur walau saat itu jam baru menunjukkan pukul 3.55, atau Selasa dini hari waktu setempat. Baru saja membukakan mata, Obama disuguhi kabar bahwa Korut baru saja menyerang pulau Yeonpyeong pada pukul 14.30 waktu setempat dan dibalas oleh tembakan artileri Korsel.
Bagi pejabat AS, itu merupakan berita terbaru mengingat waktu di Korea sekitar 14 jam lebih maju dari pesisir timur AS. Kabar dari Korea itu akhirnya memaksa Obama dan para pejabat AS mengganti agenda kerja.
Sejumlah jadwal Obama sepanjang Selasa pun terganggu, diantaranya kunjungan ke kota Kokomo di negara bagian Indiana untuk membicarakan ekonomi dan lapangan kerja setempat. Obama terpaksa membatalkan jadwal wawancara dengan jurnalis senior dari stasiun ABC, Barbara Walters.
Sebagai gantinya, Obama menggelar rapat dadakan dengan para petinggi keamanan AS di Washington. Dia juga berkomunikasi lewat telepon dengan Presiden Korsel, Lee Myung-bak, dan juga menyusun strategi baru mengenai politik luar negeri AS.
Bagi pengamat, isu Korut akhirnya menjadi prioritas utama bagi kepentingan luar negeri AS saat ini. "Umumnya, Korut tidak menjadi masalah level atas, namun peristiwa baru-baru ini membuatnya menjadi prioritas tinggi," kata Victor Cha, pengamat dari Center for Strategic and International Studies.
"Peristiwa itu mendekati perang konvensional di Asia. Ini menjadi masalah penting bagi pemerintah AS," lanjut Cha.
Deputi juru bicara Gedung Putih, Bill Burton, mengungkapkan bahwa Obama marah mendengar kabar serangan artileri Korut itu. Sebagai sekutu Korsel, AS berkomitmen untuk membantu Seoul mengatasi konflik dengan tetangganya di utara.
Burton mengungkapkan bahwa Obama mengetahui kabar itu saat ditelepon oleh penasihat keamanan AS, Tom Donilon. Setengah jam kemudian, Gedung Putih baru mengeluarkan pernyataan.
Di sore hari, sekitar 20 pejabat AS ikut rapat dadakan. Mereka diantaranya Menteri Pertahanan Robert Gates dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Tampak pula Ketua Gabungan Kepala Staf Militer Laksamanan Mike Mullen, Dubes AS untuk PBB Susan Rice dan Direktur Intelijen Nasional, James Clapper.
VIVAnews - Serangan artileri Korea Utara (Korut) Selasa kemarin tidak saja membuat Korea Selatan (Korsel) kelabakan. Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, turut dibuat repot.
Menurut harian USA Today, Obama terpaksa dibangunkan pejabat Gedung Putih dari tidur walau saat itu jam baru menunjukkan pukul 3.55, atau Selasa dini hari waktu setempat. Baru saja membukakan mata, Obama disuguhi kabar bahwa Korut baru saja menyerang pulau Yeonpyeong pada pukul 14.30 waktu setempat dan dibalas oleh tembakan artileri Korsel.
Bagi pejabat AS, itu merupakan berita terbaru mengingat waktu di Korea sekitar 14 jam lebih maju dari pesisir timur AS. Kabar dari Korea itu akhirnya memaksa Obama dan para pejabat AS mengganti agenda kerja.
Sejumlah jadwal Obama sepanjang Selasa pun terganggu, diantaranya kunjungan ke kota Kokomo di negara bagian Indiana untuk membicarakan ekonomi dan lapangan kerja setempat. Obama terpaksa membatalkan jadwal wawancara dengan jurnalis senior dari stasiun ABC, Barbara Walters.
Sebagai gantinya, Obama menggelar rapat dadakan dengan para petinggi keamanan AS di Washington. Dia juga berkomunikasi lewat telepon dengan Presiden Korsel, Lee Myung-bak, dan juga menyusun strategi baru mengenai politik luar negeri AS.
Bagi pengamat, isu Korut akhirnya menjadi prioritas utama bagi kepentingan luar negeri AS saat ini. "Umumnya, Korut tidak menjadi masalah level atas, namun peristiwa baru-baru ini membuatnya menjadi prioritas tinggi," kata Victor Cha, pengamat dari Center for Strategic and International Studies.
"Peristiwa itu mendekati perang konvensional di Asia. Ini menjadi masalah penting bagi pemerintah AS," lanjut Cha.
Deputi juru bicara Gedung Putih, Bill Burton, mengungkapkan bahwa Obama marah mendengar kabar serangan artileri Korut itu. Sebagai sekutu Korsel, AS berkomitmen untuk membantu Seoul mengatasi konflik dengan tetangganya di utara.
Burton mengungkapkan bahwa Obama mengetahui kabar itu saat ditelepon oleh penasihat keamanan AS, Tom Donilon. Setengah jam kemudian, Gedung Putih baru mengeluarkan pernyataan.
Di sore hari, sekitar 20 pejabat AS ikut rapat dadakan. Mereka diantaranya Menteri Pertahanan Robert Gates dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Tampak pula Ketua Gabungan Kepala Staf Militer Laksamanan Mike Mullen, Dubes AS untuk PBB Susan Rice dan Direktur Intelijen Nasional, James Clapper.
Altileri Korut dan Korsel Saling Bombardir
By Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu - Selasa, 23 November
VIVAnews - Korea Utara (Korut) kembali beraksi atas tetangga sekaligus musuhnya, Korea Selatan (Korsel). Setelah diduga menenggelamkan kapal patroli Korsel beberapa bulan lalu, kini Korut menembakkan puluhan peluru artileri ke Pulau Yeonpyeong di Korsel, Selasa 23 November 2010. Akibatnya, beberapa orang terluka dan puluhan bangunan terbakar.
Menurut sejumlah media massa Korsel, puluhan peluru artileri dari perbatasan selatan Korut menghancurkan rumah-rumah penduduk. Serangan itu melukai sedikitnya empat tentara Korsel. Para penduduk pulau juga terpaksa diungsikan ke dalam sebuah bunker.
Menurut saksi mata, sekitar 60-70 rumah terbakar. Pada tayangan stasiun televisi YTN, terlihat kepulan asap membumbung dari pulau tersebut, yang terletak di dekat wilayah perairan yang masih dipersengketakan kedua negara.
“Rumah-rumah dan pegunungan ditembaki dan penduduk dievakuasi. Kau tidak bisa melihat dengan jelas karena tebalnya asap. Penduduk takut mati dan tembakan masih berlangsung hingga kini,” ujar salah seorang saksi seperti dilansir dari laman kantor berita Yonhap.
Menurut laporan dari pihak militer Korut, serangan ini langsung dibalas oleh militer Korsel. Tidak ayal, serangan bertubi-tubi berdatangan dari kedua kubu.
Laporan tersebut juga mengatakan bahwa pesawat tempur Korsel juga telah dikirimkan ke lokasi. Namun, rincian lebih jelas mengenai pertempuran ini tidak dijelaskan.
Belum ada penjelasan dari Korut mengenai penembakan artileri ke Pulau Yeonpyeong itu.
Kedua Korea sempat berperang selama 1950-1953. Kendati saling menerapkan gencatan senjata, kedua negara itu belum membentuk perjanjian damai.
VIVAnews - Korea Utara (Korut) kembali beraksi atas tetangga sekaligus musuhnya, Korea Selatan (Korsel). Setelah diduga menenggelamkan kapal patroli Korsel beberapa bulan lalu, kini Korut menembakkan puluhan peluru artileri ke Pulau Yeonpyeong di Korsel, Selasa 23 November 2010. Akibatnya, beberapa orang terluka dan puluhan bangunan terbakar.
Menurut sejumlah media massa Korsel, puluhan peluru artileri dari perbatasan selatan Korut menghancurkan rumah-rumah penduduk. Serangan itu melukai sedikitnya empat tentara Korsel. Para penduduk pulau juga terpaksa diungsikan ke dalam sebuah bunker.
Menurut saksi mata, sekitar 60-70 rumah terbakar. Pada tayangan stasiun televisi YTN, terlihat kepulan asap membumbung dari pulau tersebut, yang terletak di dekat wilayah perairan yang masih dipersengketakan kedua negara.
“Rumah-rumah dan pegunungan ditembaki dan penduduk dievakuasi. Kau tidak bisa melihat dengan jelas karena tebalnya asap. Penduduk takut mati dan tembakan masih berlangsung hingga kini,” ujar salah seorang saksi seperti dilansir dari laman kantor berita Yonhap.
Menurut laporan dari pihak militer Korut, serangan ini langsung dibalas oleh militer Korsel. Tidak ayal, serangan bertubi-tubi berdatangan dari kedua kubu.
Laporan tersebut juga mengatakan bahwa pesawat tempur Korsel juga telah dikirimkan ke lokasi. Namun, rincian lebih jelas mengenai pertempuran ini tidak dijelaskan.
Belum ada penjelasan dari Korut mengenai penembakan artileri ke Pulau Yeonpyeong itu.
Kedua Korea sempat berperang selama 1950-1953. Kendati saling menerapkan gencatan senjata, kedua negara itu belum membentuk perjanjian damai.
DK PBB Bisa Bantu Selesaikan Perseteruan
Kompas - Rabu, 24 November
KOMPAS.com — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau DK PBB, menurut hemat Menteri Luar Negeri Perancis Michele Alliot-Marie, bisa membantu mengurai permasalahan perseteruan dua Korea. "DK PBB bisa membuat pertemuan darurat besok atau lusa," kata Alliot-Marie kepada para wartawan di Paris, sebagaimana warta AP dan AFP, Selasa (23/11/2010).
Menlu Perancis itu memang memberikan tanggapannya terkait insiden baku tembak artileri antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) di gugusan kepulauan sengketa antara keduanya, Yeonpyeong. Insiden pada Selasa pagi itu menewaskan dua marinir Korsel.
Kendati demikian, Alliot-Marie mengecam Korut atas kejadian itu. "Saya mengecam serangan Korut," begitu katanya.
KOMPAS.com — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau DK PBB, menurut hemat Menteri Luar Negeri Perancis Michele Alliot-Marie, bisa membantu mengurai permasalahan perseteruan dua Korea. "DK PBB bisa membuat pertemuan darurat besok atau lusa," kata Alliot-Marie kepada para wartawan di Paris, sebagaimana warta AP dan AFP, Selasa (23/11/2010).
Menlu Perancis itu memang memberikan tanggapannya terkait insiden baku tembak artileri antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) di gugusan kepulauan sengketa antara keduanya, Yeonpyeong. Insiden pada Selasa pagi itu menewaskan dua marinir Korsel.
Kendati demikian, Alliot-Marie mengecam Korut atas kejadian itu. "Saya mengecam serangan Korut," begitu katanya.
Polisi Massachusetts Selidiki Jenasah Jatuh Dari Pesawat
Antara - Rabu, 24 November
Boston (ANTARA/Reuters) - Pihak berwenang di Massachusetts mengadakan penyelidikan atas jenazah bocah lelaki berumur 16 tahun dari Carolina Utara, yang ditemukan jatuh dari pesawat di daerah Boston pada pekan lalu, kata petugas bandar udara pada Selasa.
Polisi tidak dapat menjelaskan alasan siswa SMA, Delvonte Tisdale, yang kabur dari rumahnya di Charlotte, Carolina Utara, dapat berada di Milton, Massachusetts, 1.370 kilometer, tempat dia tidak memiliki sanak saudara.
"Kami dimintai keterangan mengenai catatan penerbangan dan yang melintas di kawasan tersebut," kata juru bicara bandar udara antarbangsa Logan, Phil Orlandella, dengan menambahkan bahwa sejumlah pesawat, yang mendarat di bandar udara itu, melintas di atas Milton.
Polisi menyelidiki kemungkinan Tisdale bersembunyi di roda pesawat niaga, yang tak bertekanan udara, sehingga Tisdale diperkirakan tidak mungkin selamat akibat kurangnya oksigen serta suhu dingin setelah pesawat lepas landas.
Boston (ANTARA/Reuters) - Pihak berwenang di Massachusetts mengadakan penyelidikan atas jenazah bocah lelaki berumur 16 tahun dari Carolina Utara, yang ditemukan jatuh dari pesawat di daerah Boston pada pekan lalu, kata petugas bandar udara pada Selasa.
Polisi tidak dapat menjelaskan alasan siswa SMA, Delvonte Tisdale, yang kabur dari rumahnya di Charlotte, Carolina Utara, dapat berada di Milton, Massachusetts, 1.370 kilometer, tempat dia tidak memiliki sanak saudara.
"Kami dimintai keterangan mengenai catatan penerbangan dan yang melintas di kawasan tersebut," kata juru bicara bandar udara antarbangsa Logan, Phil Orlandella, dengan menambahkan bahwa sejumlah pesawat, yang mendarat di bandar udara itu, melintas di atas Milton.
Polisi menyelidiki kemungkinan Tisdale bersembunyi di roda pesawat niaga, yang tak bertekanan udara, sehingga Tisdale diperkirakan tidak mungkin selamat akibat kurangnya oksigen serta suhu dingin setelah pesawat lepas landas.
Sesosok Mayat Jatuh dari Pesawat
Kompas - Rabu, 24 November
BOSTON, KOMPAS.com - Pihak berwenang di Massachusetts, AS mengadakan penyelidikan terkait jenazah remaja lelaki berumur 16 tahun dari Carolina Utara, yang ditemukan jatuh dari pesawat di daerah Boston, pekan lalu, kata petugas bandar udara, Selasa (24/11).
Polisi tidak dapat menjelaskan alasan siswa SMA itu, Delvonte Tisdale, yang kabur dari rumahnya di Charlotte, Carolina Utara, bisa berada di Milton, Massachusetts, 1.370 kilometer dari rumahnya, dan dia tidak memiliki sanak saudara di sana. "Kami dimintai keterangan mengenai catatan penerbangan dan yang melintas di kawasan tersebut," kata juru bicara bandar udara Logan, Phil Orlandella. Ia menambahkan, sejumlah pesawat yang mendarat di bandar udara itu melintas di atas Milton.
Polisi menyelidiki kemungkinan Tisdale bersembunyi di roda pesawat niaga, yang tak bertekanan udara, sehingga Tisdale diperkirakan tidak mungkin selamat akibat kurangnya oksigen serta suhu dingin setelah pesawat lepas landas.
BOSTON, KOMPAS.com - Pihak berwenang di Massachusetts, AS mengadakan penyelidikan terkait jenazah remaja lelaki berumur 16 tahun dari Carolina Utara, yang ditemukan jatuh dari pesawat di daerah Boston, pekan lalu, kata petugas bandar udara, Selasa (24/11).
Polisi tidak dapat menjelaskan alasan siswa SMA itu, Delvonte Tisdale, yang kabur dari rumahnya di Charlotte, Carolina Utara, bisa berada di Milton, Massachusetts, 1.370 kilometer dari rumahnya, dan dia tidak memiliki sanak saudara di sana. "Kami dimintai keterangan mengenai catatan penerbangan dan yang melintas di kawasan tersebut," kata juru bicara bandar udara Logan, Phil Orlandella. Ia menambahkan, sejumlah pesawat yang mendarat di bandar udara itu melintas di atas Milton.
Polisi menyelidiki kemungkinan Tisdale bersembunyi di roda pesawat niaga, yang tak bertekanan udara, sehingga Tisdale diperkirakan tidak mungkin selamat akibat kurangnya oksigen serta suhu dingin setelah pesawat lepas landas.
Saturday, May 15, 2010
Costa Rica's first female president takes office
AFP - Sunday, May 9

Costa Rican new President Laura Chinchilla receives the presidential sash from the head of the Legislative Assembly Gerardo Villanueva (L), as her husband Jose Maria Rico (C) looks on, during her inauguration at La Sabana Metropolitan Park in San Jose. Chinchilla became Costa Rica's first female president, taking over at a challenging time in one of Latin America's most stable democracies.
SAN JOSE (AFP) - – Laura Chinchilla became Costa Rica's first female president Saturday, taking the oath of office in an open-air public ceremony with thousands of supporters cheering her on.
The new president swore to uphold Costa Rica's constitution and accepted the presidential sash that moments before had been worn by Oscar Arias, the twice elected president who won the 1987 Nobel Peace Prize for helping end civil wars in Central America.
The 51-year-old Arias protegee became president after winning the February 7 presidential election representing the center-left National Liberation Party (PLN).
She is the third female president in Central America, after Violeta Chamorro of Nicaragua and Mireya Moscoso of Panama.
The socially conservative president is expected to continue Arias's pro-free trade policies and international business ties, but could face tough deal-making in Congress, where her party lacks an absolute majority.
Guests from 56 nations attended the event.
Police on horseback and in riot gear held back scores of protesters who showed up at the inauguration ceremony, expressing anger at Arias's economic policies they say Chinchilla will likely to continue.
Costa Rican new President Laura Chinchilla receives the presidential sash from the head of the Legislative Assembly Gerardo Villanueva (L), as her husband Jose Maria Rico (C) looks on, during her inauguration at La Sabana Metropolitan Park in San Jose. Chinchilla became Costa Rica's first female president, taking over at a challenging time in one of Latin America's most stable democracies.
SAN JOSE (AFP) - – Laura Chinchilla became Costa Rica's first female president Saturday, taking the oath of office in an open-air public ceremony with thousands of supporters cheering her on.
The new president swore to uphold Costa Rica's constitution and accepted the presidential sash that moments before had been worn by Oscar Arias, the twice elected president who won the 1987 Nobel Peace Prize for helping end civil wars in Central America.
The 51-year-old Arias protegee became president after winning the February 7 presidential election representing the center-left National Liberation Party (PLN).
She is the third female president in Central America, after Violeta Chamorro of Nicaragua and Mireya Moscoso of Panama.
The socially conservative president is expected to continue Arias's pro-free trade policies and international business ties, but could face tough deal-making in Congress, where her party lacks an absolute majority.
Guests from 56 nations attended the event.
Police on horseback and in riot gear held back scores of protesters who showed up at the inauguration ceremony, expressing anger at Arias's economic policies they say Chinchilla will likely to continue.
Brazil to build new nuclear reactor
AFP - Thursday, May 6
[A Greenpeace activist in Rio de Janeiro, Brazil protests amid 'nuclear waste' containers. The south...] A Greenpeace activist in Rio de Janeiro, Brazil protests amid 'nuclear waste' containers. The south American country is to build a 483-million-dollar nuclear reactor to produce radioactive material for medical use as well as industrial-grade enriched uranium, local media has reported, citing a cabinet minister.
RIO DE JANEIRO (AFP) - – Brazil is to build a 483-million-dollar nuclear reactor to produce radioactive material for medical use as well as industrial-grade enriched uranium, local media has reported, citing a cabinet minister.
"The multipurpose reactor has a very important role in the nuclear program," Science and Technology Minister Sergio Rezende said in the daily O Estado de Sao Paulo.
The reactor will be built in Ipero, 130 kilometers (80 miles) from the southeastern city of Sao Paulo, in an area where the Brazilian navy is developing a nuclear submarine project and building ultracentrifuges to enrich uranium.
The reactor will be used for nuclear medicine, producing what are known as radiopharmaceuticals for diagnosing and treating diseases like cancer, Rezende said, as well as produce industrial-level enriched uranium starting in 2014.
The announcement came as senior officials from around the world meet at the United Nations to review the Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT), and ahead of Brazilian President Luiz Inacio Lula da Silva's May 16-17 trip to Iran.
Lula in February announced that two new nuclear power plants would be built in Brazil's northeast.
Brazil has an ambitious civilian nuclear program, and for more than 20 years has had two nuclear plants in Angra dos Reis, in Rio de Janeiro state.
The country's constitution bans the presence of nuclear weapons on Brazilian territory.
[A Greenpeace activist in Rio de Janeiro, Brazil protests amid 'nuclear waste' containers. The south...] A Greenpeace activist in Rio de Janeiro, Brazil protests amid 'nuclear waste' containers. The south American country is to build a 483-million-dollar nuclear reactor to produce radioactive material for medical use as well as industrial-grade enriched uranium, local media has reported, citing a cabinet minister.
RIO DE JANEIRO (AFP) - – Brazil is to build a 483-million-dollar nuclear reactor to produce radioactive material for medical use as well as industrial-grade enriched uranium, local media has reported, citing a cabinet minister.
"The multipurpose reactor has a very important role in the nuclear program," Science and Technology Minister Sergio Rezende said in the daily O Estado de Sao Paulo.
The reactor will be built in Ipero, 130 kilometers (80 miles) from the southeastern city of Sao Paulo, in an area where the Brazilian navy is developing a nuclear submarine project and building ultracentrifuges to enrich uranium.
The reactor will be used for nuclear medicine, producing what are known as radiopharmaceuticals for diagnosing and treating diseases like cancer, Rezende said, as well as produce industrial-level enriched uranium starting in 2014.
The announcement came as senior officials from around the world meet at the United Nations to review the Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT), and ahead of Brazilian President Luiz Inacio Lula da Silva's May 16-17 trip to Iran.
Lula in February announced that two new nuclear power plants would be built in Brazil's northeast.
Brazil has an ambitious civilian nuclear program, and for more than 20 years has had two nuclear plants in Angra dos Reis, in Rio de Janeiro state.
The country's constitution bans the presence of nuclear weapons on Brazilian territory.
Thursday, May 13, 2010
What’s your worst dining experience?
By Angela Lim – May 12th, 2010
Everyone’s favourite fried chicken giant Kentucky Fried Chicken (KFC) was recently ordered to fork out almost S$40,000 after a cockroach was discovered eating a chip in one of its busiest UK branches.

Further inspection of the branch in London’s West End turned out flies, dried chicken blood on the floor and even a mouse.
And that’s not all – health inspectors found there were no handwash dispensers in the food preparation area. This could only mean that on the day of the inspection, staff were not able to wash their hands properly before handling the food.
Four months prior to the incident, the fast food giant received a “specific warning” from the authorities about its sub-standard hygiene practices. But judging from the aftermath of various inspections, little has been done. I’m pretty sure Colonel Sanders must be turning in his grave right now.

We Singaporeans live to eat, and this incident serves as a harrowing reminder that sometimes we simply have no idea just what goes into our food, or how it’s being prepared.
Dining in Singapore, I’ve survived maggots in sushi, insect wings in Tom Yum soup, rubber bands in my mee hoon and residual lipstick marks on wine glasses. But these are just the tip of the iceberg.
Last April, in what is touted as the worst mass food poisoning case in Singapore, two women lost their lives after eating at an Indian Rojak stall in Geylang Serai. More than a hundred others were either hospitalised or received outpatient treatment for food poisoning.
This follows yet another mass-poisoning scare back in 2007 when Prima Deli bakery was found to have sold salmonella-laced chocolate cake. More than 150 people fell ill and experienced fever, vomiting and abdominal pain.
Do you think food hygiene practices in Singapore are satisfactory?
Share your worst horror dining experience with us and tell us what you think can be done to ensure better local food hygiene practices.
Everyone’s favourite fried chicken giant Kentucky Fried Chicken (KFC) was recently ordered to fork out almost S$40,000 after a cockroach was discovered eating a chip in one of its busiest UK branches.
Further inspection of the branch in London’s West End turned out flies, dried chicken blood on the floor and even a mouse.
And that’s not all – health inspectors found there were no handwash dispensers in the food preparation area. This could only mean that on the day of the inspection, staff were not able to wash their hands properly before handling the food.
Four months prior to the incident, the fast food giant received a “specific warning” from the authorities about its sub-standard hygiene practices. But judging from the aftermath of various inspections, little has been done. I’m pretty sure Colonel Sanders must be turning in his grave right now.
We Singaporeans live to eat, and this incident serves as a harrowing reminder that sometimes we simply have no idea just what goes into our food, or how it’s being prepared.
Dining in Singapore, I’ve survived maggots in sushi, insect wings in Tom Yum soup, rubber bands in my mee hoon and residual lipstick marks on wine glasses. But these are just the tip of the iceberg.
Last April, in what is touted as the worst mass food poisoning case in Singapore, two women lost their lives after eating at an Indian Rojak stall in Geylang Serai. More than a hundred others were either hospitalised or received outpatient treatment for food poisoning.
This follows yet another mass-poisoning scare back in 2007 when Prima Deli bakery was found to have sold salmonella-laced chocolate cake. More than 150 people fell ill and experienced fever, vomiting and abdominal pain.
Do you think food hygiene practices in Singapore are satisfactory?
Share your worst horror dining experience with us and tell us what you think can be done to ensure better local food hygiene practices.
Subscribe to:
Posts (Atom)